Pages

menuju puncak di jaringan JARDIKNAS On April 2, 2008


The New Mazda6, Sedan "Balap" Rp 410 Juta


JAKARTA, KAMIS - Seperti yang telah diberitakan Kompas sebelumnya, hari ini (Kamis, 27/3) PT Mazda Motor Indonesia resmi meluncurkan sebuah produk terbaru di Indonesia, the New Mazda6. Mengambil tempat di Hotel Four Seasons, Jakarta, pihak Mazda mengaku yakin mampu menjual 200 unit hingga akhir 2008, untuk mobil yang dibanderol Rp 410 juta per unit tersebut.

Salah satu yang unik dalam mobil sedan "rasa" mobil balap ini adalah penempatan lingkar kemudi pada sudut 21 derajat. Sederhana memang, tapi hal ini ditujukan untuk menciptakan kenyamanan dan memaksimalkan keterikatan pengemudi dengan mobil, sesuai julukan Mazda sebagai driver's car.

Dengan kapasitas mesin 2.5 liter, mobil ini dilengkapi tuas pengganti gigi tipe 'paddle' yang disambungkan dengan ActiveMatic gearbox. Nah, fitur inilah yang memungkinkan pengemudi merasa sedang mengendarai mobil balap dan lebih dinamis. "Ini satu-satunya sedan mewah yang dilengkapi tuas pengganti gigi tipe paddle," kata Haryanto Djayaputra, Dealer Business Manager PT Mazda Motor Indonesia.

Untuk memanjakan telinga, seperangkat piranti sound system dengan enam CD changer, delapan speaker, berikut digital amplifier dari Bose, akan mengalun di tengah kesenyapan kabin the New Mazda6.

Selain itu, masih ada fitur Adaptive Front System (AFS) dan lampu depan Bi-Xenon HID yang memperkuat kesannya sebagai sedan premium. Berkat AFS ini, lampu tambahan akan menyala sesuai belokan mobil, sehingga jalur kendaraan akan diterangi dengan lebih baik. (SMS)

menuju puncak di jaringan JARDIKNAS On


Kamis, 27 Maret 2008 | 23:25 WIB

JAKARTA, KAMIS- Tim Majalah Motor akhirnya menjadi juara dalam 1st Car Audio Journalist Competition --2008 Pioneer Sound Contest yang diselenggarakan di sirkuit gokart, Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta, Kamis (27/3). Tim Majalah Motor --yang merupakan salah satu produk Kompas Gramedia-- mengalahkan sembilan tim media lainnya yang bersaing dalam kelas analog, termasuk tim Kompas.com.

Dengan dukungan dari Elixir Car Stereo yang dimotori Utanto Wibowo dan Hebron Hartana, tim ini berhasil mengumpulkan poin 62,5 atau unggul tipis dari juara kedua tim OtoStereo yang medapatkan nilai 61,5. Nilai ini diberikan juri tunggal Jhonny dari Mega Audio yang merupakan juara kategori Sound Quality (SQ) pada Pioneer Car AV World Contest 2007 yang diselenggarakan akhir tahun lalu.

Sebelum kontes ini digelar, tiap peserta diberi waktu sekira satu bulan untuk melakukan instalasi audio set Pioneer yang terdiri dari head unit DEH-P65BT, speakers TS-A1702C dan subwofer TS-W125F, yang disediakan pihak Pioneer. Peserta dibebaskan untuk memilih jenis mobil, namun dilarang untuk melakukan modifikasi ataupun penambahan atas audio set tersebut.

Head unit DEH-P65BT adalah salah satu produk Pioneer yang memiliki fitur direct subwoofer drive, yaitu power internal MOSFET yang dapat membunyikan sebuah subwoofer tanpa auxiliary amplifier dengan impedansi total maksimal 2 ohm, dan daya keluaran maksimal 70 watts x 1. Di samping itu, produk ini pun dilengkapi dengan bluetooth yang berguna untuk melakukan pemutaran audio lewat piranti eksternal nirkabel, dan juga koneksi telepon selular.

Dengan kondisi tersebut, praktis persaingan antarpeserta berkutat pada kualitas suara, lewat penempatan speakers, tweeters, dan subwoofer di dalam kabin. Selain itu, kondisi akustik mobil pun disesuaikan dengan kebutuhan tersebut. Hal ini pula yang dilakukan Tim Majalah Motor. Mobil Toyota Avanza yang mereka gunakan mendapatkan sejumlah penyesuaian untuk menghasilkan kualitas suara terbaik saat memutar lagu wajib "I Left My Heart in San Fransisco" dari album Audiophile II.

Modifikasi itu antara lain terlihat pada bagian dashboard yang semula berlekuk, menjadi rata seperti meja tulis. "Ya, ini supaya stage-nya bisa pas, bisa center," kata Utanto Wibowo.

Sementara pada pintu belakang, sebuah lembaran kayu yang dibungkus rapi, disisipkan di dalam doortrim. Kata Utanto, hal ini untuk memaksimalkan pantulan suara bass yang dikeluarkan subwoofer. Tak tanggung, trik ini menyebabkan pintu belakang menjadi berat, dan harus diganjal jika ingin tetap dibuka. Namun upaya itu membuahkan hasil, dan Tim Majalah Motor menjadi juara.

menuju puncak di jaringan JARDIKNAS On


WASHINGTON, RABU- Belanja persenjataan oleh Pentagon (markas besar Angkatan Bersenjata AS) menjadi 1,6 triliun dolar dan ini angka tertinggi dalam dua dekade terakhir.

Lembaga auditor pemerintah, Government Accoutability Office (GAO) mengkritik besarnya anggaran itu dan pembelanjaannya tidak sesuai jadwal. "Setiap dolar yang dikeluarkan secara tak efisien dalam mengembangkan dan mengadakan sistem senjata, berakibat makin sedikit dana untuk prioritas anggaran internal maupun eksternal lainnya -- misalnya perang global melawan teror dan program-program pemberian hak yang terus berkembang (seperti jaminan sosial)," kata Gene Dodaro, pelaksana tugas pengawas keuangan GAO, dalam laporan untuk Kongres, Senin (31/3).

GAO mengatakan, 72 program, mulai dari jet tempur hingga kapal perang dan satelit, lebih mahal 295 miliar dolar dari anggaran tahun 2007 dan rata-rata terlambat 21 bulan.

Pengeluaran untuk persenjataan baru itu terus naik, walaupun anggarannya harus bersaing dengan biaya perang di Afghanistan dan Irak. Sebaliknya, di berbagai bidang lain, terdapat penurunan pembelanjaan anggaran pemerintah.

Investasi Departemen Pertahanan AS (DOD) dalam sistem persenjataan telah naik dua kali lipat, dari 790 miliar dolar pada tahun 2000, menjadi 1,6 triliun dolar pada tahun 2007.

Biaya akuisisi adalah 6 persen lebih tinggi daripada perkiraan awal pada 2000, namun lebih tinggi 26 persen pada tahun 2007. Hal tersebut belum termasuk biaya penelitian dan pengembangan yang sudah 40 persen melebihi anggaran pada tahun lalu.

Biaya tersebut akan sulit bertahan karena program persenjataan mendapat persaingan ketat dari dana perang serta program non-militer, seperti jaminan sosial, kata GAO.

Pentagon bermaksud menginvestasikan sekitar 900 miliar dolar hingga lima tahun mendatang guna pengembangan dan pengadaan, termasuk di dalamnya adalah 335 miliar dolar, atau 37 persen, untuk alat utama sistem persenjataan baru.

"Ketidakefisienan ini juga sering menyebabkan pengiriman tidak seperti yang disepakati, misalnya berjumlah lebih sedikit atau terlambat diserahkan kepada pengguna," kata Dodaro.(Ant)